Ini Ginjal Siapa?
Ini Ginjal Siapa ?
Oleh: Clarance Aurellia Modesty
Di sudut jalan tampak dua anak gadis
sedang duduk termenung sedih mereka adalah adik kakak. Sang kakak bernama Andin
dan adik bernama Rosa. Jarak usia mereka
terpaut 5 tahun. Mereka adalah anak yang periang, pintar, rajin.
Ayah mereka adalah Pak Santo, seorang
pengusaha mebel terkenal di kotanya. Tapi sifat ayahnya berbanding terbalik
dengan kedua anaknya. Ayahnya sangat arogan, sifat iri selalu menyelimuti dalam
dirinya, kurang bersyukur akan keadaan yang diberikan Tuhan padanya.
Sedangkan ibunya adalah Bu Rina, seorang
ibu rumah tangga yang hatinya bagaikan peri. Sesekali Bu Rina membantu
administrasi kantor di perusahaan Pak Santo. Andin dan Rosa sangat bersyukur punya ibu seperti Bu
Rina. Bu Rina cakap akan segalahnya, pintar masak, pintar buat kue, pintar
menghias rumah dan dapat mengatur rumah tangga.
Rupanya mereka bersedih karena baru saja
dimarahi ayahnya.
“Kak, mengapa ya..Ayah akhir-akhir ini
sering marahin kita?,” tanya sang adik
“Ga tau kakak dek, padahal kita ga berbuat
salah kan ya ?,” ujar Andin sang kakak.
“Yuk dek, kita main di taman saja mungkin
saja kita bertemu teman-teman yang lain !,” ajak Andin
“Iya kak, yuk…..” balas Rosa
Akhirnya
mereka bermain di taman bersama dengan teman-teman yang lain. Andin dan Rosa
sudah tak bersedih lagi, mereka terhibur oleh gurauan teman-temannya.
Mereka kembali pulang kerumah, mereka
sangat terkejut bahwa rumahnya banyak sekali orang-orang yang berbadan kekar.
“Kak, siapa mereka, mengapa rumah kita
ramai sekali ?, tanya Rosa
“Ibu…Ibu… kenapa ini bu, kenapa koper kita
ada di luar ?,” tanya Andin pada ibunya.
Ibunya menjelaskan bahwa rumah kita disita
oleh pihak bank, karena perusahaan ayahmu bangkrut di tipu oleh temannya dan
rumah ini yang mulanya dijadikan jaminan hutang harus disita oleh bank.
“Ibu….kita mau tinggal dimana bu?”,
“Kita akan cari kontrakan ya sayang…”
tutur ibunya dengan suara lirih
Si Ayah hanya duduk lemas dilantai teras,
Pak santo pasrah akan keadaan, dia harus melepas rumah dan segala perabotannya.
Rupanya Pak Santo menyesal, beliau terlalu berambisi sehingga ceroboh dalam
menjalin bisnis dengan koleganya.
Tiga bulan sudah mereka menempati rumah
kontrakan. Sekarang ibunya berjualan nasi bungkus yang di titipkan di warung-warung
dan juga berkeliling kampung. Andin dan Rosa sabar menerima keadaan ini, mereka
juga ikut membantu ibunya berjualan dengan menawarkan ke teman-teman
sekolahnya.
Depresi ayahnya semakin menjadi, akhirnya
jatuh sakit. Tubuhnya semakin kurus. Sehingga yang mencari nafkah adalah
ibunya. Ibunya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Melihat Ibunya
yang membanting tulang, ayah bersemangat lagi untuk bangkit, akhirnya ayah
sembuh dan memulai merintis usahanya.
“Dek, rasanya badan kakak kok panas sekali
ya ?”, ucap andin
Rosa langsung memanggil ibunya, mengatakan
kalau Andin sakit. Ibunya langsung menghampiri andin, tubuhnya sampai menggigil
karena suhu badan panas yang terlalu tinggi.
“Andin tidak apa-apa kok bu, cuma panas
biasa minum obat toko saja pasti sembuh.” Helak Andin
“Ya sudah, ini obatnya ayo diminum !” kata
Ibu sambil memberikan obat.
Sudah satu minggu panas Andin tidak juga
turun, bahkan ditambah dengan susah buang air kecil, kalau harus buang air
kecil sakit sekali rasanya. Ibu tidak tega pada anak sulungnya itu.
“Aku harus bawa Andin ke rumah sakit,
tapi…pasti mahal biayanya” gumam ibu dalam hati.
Langit sudah mulai gelap, ibu tak putus
asa pergi ke rumah Bu RT untuk meminjam uang guna biaya rumah sakit.
Beruntunglah ibu, Bu RT memberikan pinjaman uang tanpa harus memikirkan
pengembaliannya, ya…memang Bu RT seorang dermawan.
Tibahlah Andin dan ibu di rumah sakit
Harapan Kita. Masuk ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat), Andin langsung ditangani
oleh dokter. Diluar ruangan ibu menangis dan berdoa akan kesembuhan anak
sulungnya itu.
Dua jam berlalu, dokter yang menangani
Andin keluar dari ruangan sambil membawa beberapa berkas hasil pemeriksaan.
“Ibu, kami telah memeriksa kondisi anak
ibu dan juga telah melaksanakan cek laboratorium, ternyata anak ibu terkena gagal
ginjal, ginjalnya sudah sangat parah” jelas sang dokter.
Seketika itu juga Ibu langsung lemas
hampir saja pingsan.
“Ibu, saya mohon andin harus segera
melakukan cangkok ginjal untuk menyelamatkan nyawanya, paling lama satu bulan
Andin bisa bertahan hidup” ujar dokter.
Ibu duduk termenung di sudut ruang, ibu
berdoa untuk kesembuhan Andin. Lalu ibu pulang kerumah menceritakan
keadaanandin pada suaminya. Suaminya pun terkejut dan tak menyangka.
Tujuh hari berlalu Andin masih tergolek
lemah di ruang ICU, ibu tidak tega melihat wajah Andin yang pucat pasi.
Sesekali ibu juga jatuh pingsan, ternyata ibu selama ini menyimpan sakit yaitu
leukemia tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Jadwal cangkok ginjal andin telah
terjadwal, administrasi telah lengkap, operasi akan segera dilaksanakan. Andin
dibawa ke ruang operasi, begitu juga wanita yang bersedia mendonorkan ginjalnya
pada andin.
Lampu merah diluar ruang operasi masih
menyala, disana ada Ayah dan Rosa tak
terlihat sang Ibu. Tepat lima jam operasi dilaksanakan, lampu merah itu sudah
tak menyala lagi.
Tapi………, seorang dokter dan ditemani
perawat keluar dari ruangan menghampiri ayah.
“Maaf pak, ibu mengalami pendarahan hebat
sehingga nyawanya tidak dapat tertolong, tetapi kondisi Andin stabil”
“Apaaaaaa………..Ibu………..” teriak Rosa
histeris
Beberapa hari berlalu, Andin diperbolehkan
pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Andin memanggil-manggil ibunya, tetapi
tanpa sahutan. Ayah dan Rosa terdiam saat itu.
“Ayah, mana ibu ?, Rosa mana Ibu ?” tanya
Andin penasaran
Kemudian ayah menjelaskan dengan suarah
lirih.
“Sabar ya anakku Andin, ibunya sekarang
sudah tiada, beliau sudah tenang dialam surga”, jelas ayah
“Apa yah,,,,,Andin ga salah dengar ?”
“Din, kamu tetap bersama ibu, karena
Ginjal kirimu itu milik ibumu” ayah menjelaskan kondisi sebenarnya.
Andin bersyukur punya ibu yang baik,
beliau bertekad menukar nyawanya demi Andin. Kasih sayang ibu sangatlah mulia.
Di pusaran ibunya Andin tak berhenti menangis.
“Terimakasih bu…..”
Komentar
Posting Komentar