Donatur Darah Online
DONATUR
DARAH ONLINE
oleh : Cicillia Dian
Tik…tik…tik….suara
gemericik air hujan membasahi genting rumahku, minggu pagi ini aku sendiri, suasana sepi di rumah, aku duduk
di pinggir kolam ikan yang ada di sudut tamanku. Ku pandangi ikan koi yang
berenang kesana kemari, mereka keliatannya asyik sekali, ikan itu tidak
sendiri, mereka selalu ditemani ayah ibunya, selain saudara dan teman. Ketika
tanganku menyebarkan butiran makanan ikan, mereka saling berebut, suasana yang
menyenangkan.
Tetapi
berbeda dengan keadaanku, aku anak tunggal, teman-temanku biasa memanggilku
Sonya. Papaku seorang kontraktor alat berat, sedangkan mamaku sorang pengusaha
butik yang outletnya tak jauh dari rumahku. Mereka berdua sangat sibuk sekali,
sampai-sampai aku merasa aku lupa kalau aku punya orang tua.
Sejak
kecil aku diasuh oleh oleh mbak Tum, dia adalah pengasuhku dari aku bayi hingga
saat ini aku berusia 14 tahun. Aku sayang dengan mbak Tum, dan sepertinya rasa
sayangku melebihi dari sayangku pada mama dan papaku. Bagaimana tidak, hanya
mbak tum lah yang selalu berada di dekatku dan mengerti keadaanku.
“non…non….ayo
sarapan dulu, makanan sudah siap” panggil mbak Tum yang membangukan lamunanku
“ya..mbak
sebentar”, balasku
Aku
menuju meja makan, nasi goreng merah dengan telur mata sapi diatasnya serta
segelas susu sudah siap di meja makan. Aku makan sendiri tanpa ditemani mama
papa.
“sepi
sekali, ahh….biasanya aku juga seperti ini”, pikirku
“kenapa
non, kok ngelamun?”, tanya mbak Tum
“gak
apa-apa kok mbak, aku Cuma merasa kesepian aja, mama papa selalu aja pergi
meskipun hari Minggu seperti ini. Kadang aku iri sama teman-temanku yang
berlibur bersama di hari minggu” kataku sambil memakan nasi goreng.
Prok..prok…prok…suara
sepatu masuk dari depan, oh itu ternyata mamaku.
“hai….sayang,
sudah bangun kamu, oh..sedang sarapan ya..”, sapa mama sambil mencium keningku
Mama
dirumah hanya sebentar saja terus pergi lagi. Begitu terus setiap harinya.
Kring…Kring…suara
telepon rumah membangunkan aku dari lamunanku
“Ya,
halo siapa ini?”, tanyaku
“saya
ibunya Tum, bisakah saya berbicara dengan Tum”, balasnya
mbak
Tum mendapat kabar dari desa bahwa anak semata wayangnya sakit, terkena demam
berdarah dan HB nya terlalu rendah
sehingga harus membutuhkan transfusi darah.
Mbak
Tum sangat kaget mendengar kabar itu dan langsung meminta ijin untuk pulang
kampung. Akupun juga kaget, aku nggak tega melihat anak mbak Tum seperti itu.
Aku
berpikir keras bagaimana cara bisa menolong anak Mbak Tum. Akhirnya kubuka Handphone ku, aku browsing lewat google, akhirnya ku menemukan cara lewat aplikasi
Galangan Kasih. Dengan segera aku mendaftar aplikasi itu dan menceritakan apa
yang terjadi bahwa kami membutuhkan darah golongan B rhesus negative, golongan
darah yang sangat langka dan sulit sekali menemukan di bank darah PMI, aku
berharap melalui aplikasi ini anak mbak Tum dapat sembuh.
Satu jam aku menunggu perkembangan dari aplikasi itu,
belum ada pemberitahuan yang masuk. Aku sedih, aku merasa gagal menolong anak
mbak Tum.
Teet…teet…pemberitahuan
dari telpon genggamku berbunyi.
“Alhamdulillah…”
kataku sambil bergirang
Ternyata
ada seorang Bapak yang berasal dari Denpasar Bali bersedia mendonorkan
darahnya, kebetulan golongan darah bapak itu sama seperti anak mbak Tum. Tak
hanya itu donasi danapun semakin terkumpul.
Malam
harinya aku mendapat kabar bahwa anak mbak Tum mulai membaik, lepas dari masa kritisnya. Aku sangat
bersyukur sekali.
Mama
dan papa bangga kepadaku, gadget yang diberikan kepadaku, dapat aku gunakan
untuk menyelamatkan orang lain. Dengan penggunaan media social yang benar dan
tepat maka mendapatkan nilai yang positif.dan juga dapat membantu sesama.
Komentar
Posting Komentar