Dibalik Cerita Tempe Mendoan
Dibalik Cerita Tempe Mendoan
Oleh : Clarance Aurellia Modesty
Pagi itu suasana di rumah Pieter sangat hiruk pikuk. Pieter adalah anak laki-laki dari keluarga Pak Thomas dan Bu Maria. Dia mempuyai kakak perempuan yang bernama Rosa. Hari itu, hari sabtu waktunya mengambil rapot semester pertama. Papa Thomas yang bertugas mengambil rapot Pieter, sedangkan Mama Maria mengambil rapot Rosa.
“Pieter…..Pieter……ayo bangun sudah jam berapa ini !!!”, teriak papa sambil menyiapkan perlengkapan meetingnya.
“Ya..pa….ah dasar orang tua bawel”, ketus Pieter Sedangkan di dapur mama sibuk menyiapkan sarapan dibantu Rosa. Rosa memang anak yang rajin, patuh terhadap orang tua, suka membantu dan dikelas selalu mendapat juara satu. Piala-piala terus bertambah di lemari ruang tamu. Hal ini berbanding terbalik dengan adik satu-satunya. Pieter anak yang manja, malas, egois, keras kepala, sepertinya tidak ada sifat positif yang ada didirinya. Tak hayal mama dan papa selalu kelabakan dengan sikap anak lakinya ini. Hampir setiap bulan surat panggilan orang tua dikirim. Waktu sudah semakin siang, Papa Thomas berangkat ke sekolah Pieter untuk mengambil rapot semester kemudian dilanjut pergi meeting bersama kliennya.
“Pak, ini rapot Pieter mohon dibimbing di rumah ya Pak…?”, Bu guru menyodorkan rapot dan secarik kertas tunggakan uang kas.
“Apa ini bu, padahal setiap minggu sudah saya beri untuk membayar uang kas,” dengan raut wajah sedih dan malu Papa Thomas meninggalkan ruang kelas VII J SMP Harapan Cerah.
Sore harinya papa pulang dari meeting membawa kabar gembira, karena mereka berempat akan liburan ke Yogyakarta bersama rombongan lainnya karena papa mendapat reward dari kliennya.. kabar sukacita itu terdengar di telinga Pieter dan Rosa. Keesokan harinya mereka berangkat naik bus yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Selama perjalanan Pieter hanya sibuk dengan permainan mobile legend, dia tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya. Bus berhenti di sebuah rumah makan untuk makan malam, mereka berempat pun turun dan segera mengambil menu yang telah disediakan. Tapi tidak dengan Pieter, dia tetap saja sibuk memainkan jemarinya dengan gadgetnya duduk di pojokan rumah makan.
Burm…burm…bis pun melaju kembali meneruskan perjalanan. Keluarga Pak Thomas tak menyadari kalau anak lelakinya tertinggal di rumah makan. Mereka baru mengetahui saat sampai di tempat wisata. Pieter yang tertinggalpun baru mengetahui pada saat pagi harinya saat dia bangun, ternyata Pieter tertidur setelah kecapekan main gadgetnya.
“Ma….pa….kak Rosa….kalian dimana..???” meskipun tak menangis tapi dia menujukan rasa takut yang luar biasa.
Pieter berjalan menelusuri jalan yang tidak pernah sama sekali ia datangi. Berjalan terus berjalan akhirnya dia bertemu dengan anak yang sendang berjualan tempe mendoan, sebut saja dia Joko. Joko menghampiri Pieter dan menanyakan asal usulnya, Pieterpun menceritakan semua kejadiannya.
“Silahkan ambil tempe mendoan ini kamu pasti lapar”
“Ah..makanan apa ini, seperti orang kampung saja. Ga ah…, kalau kamu mau berikan aku tuh makanan yang enak” nyinyir Pieter
“ya..sudah ga apa-apa, kalau kamu mau, ambil sendiri saja ya, aku ijin ke toilet sebentar.” Diam-diam Pieter mengambil tempe mendoan itu karena penasaran rasanya dan perutnya yang sudah berbunyi.
“Enak juga ya daganganmu..?, kenapa kamu berdagang seperti ini ? memangnya papa mamamu ga berikan kamu uang ?” sambil menguyah tempe mendoan itu.
“ Oh…aku seorang yatim piatu, aku tinggal bersama nenekku. Aku berjualan ini untuk membantu nenekku yang sudah merawat dan menemaniku sejak bayi meskipun itu bukan nenek kandungku tapi aku sayang sekali dengannya” bercerita sambil berjalan menuju rumah Joko.
Sepanjang perjalanan Pieter mendengarkan cerita kehidupan Joko yang sangat miskin tetapi masih bisa bertahan hidup dan mengucap syukur. Joko yang hanya makan bangku sekolah dasar, karena keterbatasan biaya dan hidup miskin. Joko belajar sendiri karena ketekadannya menjadi seseorang yang sukses dan dapat berguna bagi nusa dan bangsa itulah harapan dari Joko. Pikiran dan hati Pieter mulai terbuka, dia mulai bersikap ramah dengan joko, tidak seperti sebelumnya yang merasa jijik dan bersikap cuek. Sesampainya di rumah, Joko memperkenalkan dirinya dengan nenek Sri. Sehari, dua hari Pieter mengikuti semua kegiatan yang dilakukan Joko,.ia pun ikut berjualan menelusuri perkampungan. Betapa berat kehidupan yang dilalui joko tak menyurutkan untuk tetap bersyukur.
“Tempe….tempe mendoan…..Bu tempenya Bu…” teriak Pieter sambil menaawarkan dagangan Joko.
Panas terik tak mengurangi semangat mereka untuk berjualan, Dua hari berlalu, Pieter mempunyai banyak pengalaman yang berharga, dan juga telah membuka hati dan pikirannya akan sebuah kehidupan dan harapan masa depan. Keesokan harinya Joko mengantar Pieter ke pos polisi untuk meminta bantuan petunjuk pulang kerumahnya. Dengan berbekal uang Rp. 30.000 di saku celananya Pieterpun diantar ke terminal dan diarahkan naik bus tujuan Surabaya. Papa, mama dan kak Rosa pun tidak bersemangat berlibur dan selalu memikirkan keadaan Pieter. Maklum Pieter anak yang manja dan tidak bisa hidup sendiri selama ini. Sesampainya di rumah sehabis berlibur, mereka terkejut sudah ada Pieter di dalam rumah dan juga sudah membersihkan rumah serta meyiapkan kudapan tempe mendoan untuk menyambut papa, mama dan kak Rosa.
“ Haaaaahhh…., benar ini kamu semua yang menyiapkan?” heran Mama
“Iya ma” kata Pieter Sambil makan tempe mendoan, Pieter menceritakan pengalamannya bertemu dengan Joko.
Pieter berharap kelak dewasa ia akan membangun sekolah gratis untuk anak-anak yang tidak mampu, dan Pieter berjanji akan rajin belajar, menuruti nasehat orang tua dan tidak bandel lagi. Mereka berempat saling memandang dan berpelukan.
Komentar
Posting Komentar